Relokasi Pabrik China Bikin Khawatir Industri Lokal

  • 16 November 2011
Relokasi Pabrik China Bikin Khawatir Industri Lokal

Kekhawatiran para industri di dalam negeri terhadap China bukan hanya karena barang jadi mereka yang terkenal murah. Namun adanya relokasi atau perpindahan pabrik-pabrik asal China ke Indonesia seperti produk elektronika China malah semakin mereka khawatir.

Wakil Sekjen Asosiasi Merek Indonesia (AMIN) Yeane Keet mengatakan adanya dampak globalisasi dan inflasi tinggi di China banyak produsen yang hendak melakukan relokasi pabrik ke Indonesia. Selain itu, upah minimum di China hampir mencapai US$ 500 per bulan. Ditambah lagi dengan adanya asuransi yang harus ditanggung.

Selain itu, umumnya pabrikan China yang relokasi adalah katagori nilai investasi dan teknologi rendah. Hal ini membuat produsen dapat memindahkan pabriknya dengan sangat mudah ke negara lain termasuk Indonesia. Selain itu, umumnya mereka adalah perusahaan BUMN yang memiliki modal sangat kuat dan mendapat berbagai macam dukungan negaranya.

“Kemudahan yang mereka peroleh dari negara asal, serta dukungan finansial yang sangat solid dari pasar dalam negri mereka yang terproteksi, produsen tersebut beroperasional dengan cara mengalokasikan biaya untuk mematikan kompetitor. Dalam hal ini adalah pemain lokal atau pemegang merek Indonesia berbasis industri,” kata Yeane Keet dalam keterangannya, Selasa (22/11/2011)

Menurutnya dampak jangka panjang, apabila merek Indonesia berbasis industri sudah tidak sanggup bersaing karena pasar mereka lebih banyak ke dalam negeri, maka produsen Indonesia akan beralih menjadi trader. Apabila pabrik pemegang merek Indonesia sudah tidak ada lagi, maka Indonesia akan kehilangan aset produk lokal.

Yeane khawatir apabila produsen tersebut suatu hari melihat Indonesia sudah tidak menarik lagi maka mereka akan mudah merelokasi pabriknya ke negara lain dan meninggal industri Indonesia yang sudah sekarat.

Oleh karena itu AMIN meminta pemerintah agar investasi asing harus membawa teknologi menengah atas atau produk premium. Selain itu, industri yang dibangun harus hemat energi dan ramah lingkungan.

“Perlu juga pemberian insentif dan subsidi kepada pemegang merek Indonesia yang berbasis industri untuk melakukan ekspansi pabriknya. Penerapan non tarif barrier untuk produk impor khususnya SNI dan label bahasa Indonesia,” serunya.

  • 16 November 2011

Artikel Lainnya

Cari Artikel